Bagaimana Jika Gaji Istri Lebih Besar Dari Suami? 9 Hal ini Bisa Anda Lakukan Dan Pikirkan

0
5

wahok-foto gambar seorang wanita bekerja sebuah diskotik atau bar

Sebuah kebanggaan jika memiliki istri yang berkarier baik. Juga sebuah keuntungan karena kebutuhan rumah tangga akan dapat ditanggung bersama. Sayang, kadang, banyak suami yang tak siap menghadapi konflik batin, ketika tahu, gaji istrinya lebih besar daripada dia. Apakah Anda juga?

Sebenarnya, jika ada saling pengertian, perbedaan penghasilan ini tak akan jadi masalah. Tapi masalah selalu punya alasan. Kadang, perempuan yang bergaji lebih besar bisa saja menjadi tinggi hati, dan merasa berhak untuk mengatur rumah tangga, ketimbang suami. Akibatnya, suami merasa ketakutan, dan bahkan rendah diri. Persepsi-persepsi inilah yang kemudian acap memicu perselisihan dalam keluarga. “Uang memang masalah nomor satu yang sering dipertengkarkan para pasangan suami-istri,” ujar Howard Markman, direktur pusat penelitian perkawinan dan keluarga di Universitas Denver, Amerika, yang juga turut menulis buku Fighting for Your Marriage. Padahal, jika Anda menerapkan hal di bawah ini, memiliki istri berbergaji besar justru anugerah.

Anda sudah sampai pada tahap meneruskan komunikasi, apa pun yang terjadi. Itu sangat bagus. Komunikasi sangat penting dalam kondisi apa pun, dan bahkan mempereda masalah. Jadi, jika komunikasi masih jalan, seterusnya akan menjadi kian gampang untuk Anda hadapi dan tentu lebih ringan.

Lihat Juga:

  • 3 HAL Tentang Janda, Membuat Pria Berpikir Panjang Untuk Menikahinya
Bagaimana Jika Gaji Istri Lebih Besar Dari Suami? 9 Hal ini Bisa Anda Lakukan Dan Pikirkan

Berikut ini sembilan kiat sukses untuk melihat gaji istri anda lebih tinggi

1.Ingatkan komitmen.
Ketika perselisihan muncul, ingatlah kembali komitmen sejak awal pernikahan, untuk menanggung bersama masalah apa pun. Katakan pada istri Anda, posisi kepala rumah tangga selalu di tangan Anda. Keputusan apa pun, menyangkut uang, meskipun itu uang istri, jangan memutuskan sendiri. Harus ada saling pengertian terus pada komitmen di atas. Keterbukaan untuk mengelola uang bersama-sama.

2.Berbeda boleh kok
Ingatlah, tiap orang punya kelebihan, juga istri Anda. Jika dia bergaji besar, tentu dia melakukan hasil kerja yang menakjubkan. Anda harus senang karena bagaimanapun, dia akan menjadi salah satu kebanggaan Anda. Jangan jadikan hal itu untuk mengukur kemampuan Anda. Kesalahan pertama adalah jika Anda menganggap diri lebih rendah, dan dari situlah muncul masalah. Anda berdua tetap saja pribadi yang berbeda, cinta yang menyatukannya.

Menurut Gleam S. Powell, penasehat perkawinan di Athens, Georgia, “Harus disadari, tak mungkin ambisi seseorang diposisikan pada pundak pasangannya. Yang bisa dilakukan, saling memahami ambisi pasangan, kemudian menyelaraskannya satu sama lain.”

3.Teliti masalah
Jika kemudian istri menjadi berubah, cari tahu penyebabnya. Jangan langsung patah arang dan merasa gagal sebagai suami. Introspeksi diri, barangkali Anda memang kurang rajin. Atau lihat sedari Anda pacaran. Jangan-jangan memang watak istri yang keras dan dominan adalah bawaan sejak dahulu, bukan karena di saat gajinya telah tinggi. Itu hanya sensivitas Anda yang tak pada tempatnya.

Jika memang istri telah merasa “wah”, bicarakan dari hati ke hati. Jangan takut untuk mengakui kelebihan dia dalam hal finansial tadi. Tapi ingatkan, jangan itu sampai mengubah dia. Katakan, ada saat Anda hanya menajdi pendukung, ada saat dia yang menjadi pendukung. Tapi jangan posisi itu membuat hubungan retak. Bicarakan dengan cinta, ya?

4.Tetaplah berkomunikasi
Sebagian pria acap mendiamkan pasangannya jika ada masalah. Padahal, karena berdiam diri itulah masalah akan kian menajdi. Masalah harus dieliminasi, dengan cara dibicarakan, membuka komunikasi. Ini juga menyangkut kesiapan berada di rumah. Mungkin karena dia kariernya lebih baik, harus ada pembagian tugas yangberubah. Anak-anak mungkin menjadi hak Anda untuk lebih banyak mengasuhnya, atau dia lebih memprogramkan kerja sehingga tak sampai mengorbankan waktu anak-anak.

Menurut Carol A Turkington dalam Reflections for Working Women, kemajuan zaman yang menuntut perempuan sejajar dengan pria di segala bidang, mengakibatkan sebagian waktu ibu untuk urusan rumah tangga dan anak menjadi berkurang. Inilah masalah yang harus dikompromikan.

5.Bagilah tugas
Idealnya, ada pembagian tugas dan kewajiban yang seimbang. Terpenting, tak ada dominasi di sini. Jika istri Anda terlalu dominan, berlanjut akan berdampak pada perkawinan. Anak juga terkena dampaknya. Anak akan tumbuh menjadi seorang yang tergantung kepada ibunya, dan tak mandiri. Anak juga akan lebih mengidolakan sang ibu yang dianggapnya serba bisa dan cenderung meremehkan sang ayah. Ini harus dihentikan. Dengan komunikasi yang sudah jalan, tak ada lagi halangan untuk memberi dia pengertian tentang fungsi Anda sebagai kepala keluarga.

6.Doronglah.
Tak seharusnya perbedaan penghasilan ini jadi masalah. Toh, hasilnya akhirnya menjadi milik bersama, dan untuk kepentingan bersama. Bahkan seharusnya Anda memberi dorongan, dia juga begitu. Tetap perlu sikap menghormati, menyayangi, seia- sekata, sehina-semalu, menjadi teman diskusi, dan melindungi. Suami harus tetap menghargai apa yang telah diperbuat istri. Sebaliknya, istri juga mengerti bahwa suami mempunyai tanggung jawab besar. Tentu saja ini harus diimbangi kemampuan dan pola pikir yang bijaksana.

7.Saling menjaga
Ada kalanya Anda harus membiarkan pasangannya mengejar karier. Jika kariernya menanjak terus, bukankah keluarga juga diuntungkan? Sebuah sikap yang perlu dihindari adalah menganggap pekerjaan istri Anda sebagai musuh rumah tangga. Karier dan keluarga adalah satu kesatuan, dan bukan merupakan dua kutub yang berbeda, bahkan berlawanan. Inilah yang terlebih dahulu perlu dipahami oleh Anda dan dia.

Peran suami-istri adalah menjaga pasangannya agar tak lupa diri dan menyingkirkan kepentingan keluarga. Pandai-pandailah bersikap, selalu mendukung pasangan dan membuat suasana yang kondusif untuk berdiskusi. sellu ingatkan dia dengan pelukan jika sudah terlalu hiperaktif di luar rumah. tak sulit kan?

8.Dijaga bersama.
Artinya, manfaatkanlah penghasilan secara bersama. Tak ada istilah “uangku” atau “uangmu”, tetapi yang ada adalah “uang kita”. Tak berarti jika istri Anda bekerja dan punya gaji lebih besar dia bisa memboroskan uangnya begitu saja, tanpa bericarakan dengan Anda. Menurut Maria Lasswell, pimpinan lembaga terapi untuk perkawinan dan keluarga di Amerika, potensi perselisihan cenderung muncul akibat perbedaan kebiasaan dalam menggunakannya. Karena itu, tentukan prioritas. Sesuaikan dengan penentuan anggaran yang sudah dibuat bersama. Daripada dihambur-hamburkan, lebih baik ditabung atau investasi.

9.Selaraskan diri.
Ingat, ukuran sukses Anda sebenarnya dilihat juga dari rumah. Jika Anda sukses atau istri sukses, rumah tangga hancur-hancuran, ya sama saja. Sukses di karier bukan berarti istri menomorduakan keadaan rumah, dan kebutuhan seisi rumah. Selain ikut pula menopang ekonomi keluarga, istri tetaplah ibu rumah tangga.

Begitu pula suami, tak serta merta mengharapkan istri 100% mengurusi rumah. Terlebih jika ini didasari ketakterimaan perbedaan gaji. Keduanya harus bisa menyelaraskan. Inilah perlunya kerja sama suami-istri dalam mengelola rumah tangga.

“Bila dapat melihat dengan objektif mana yang sehat dan tidak, maka Anda berada di jalur yang benar. Anda bisa meletakkan fokus pada jalan keluar yang menyenangkan,” ujar Guarney.

Nah, jangan lagi merasa bermasalah dengan gaji istri ya? Toh, bagian yang terbesar dari dirinya, hati dan cintanya, Anda yang masih memilikinya. Terimakasih Telah Baca Postingan Bagaimana Jika Gaji Istri Lebih Besar Dari Suami? 9 Hal ini Bisa Anda Lakukan Dan Pikirkan, Semoga Bisa Berguna Dan ber-manfaat, Baca Juga Postingan Terbaru Admin Yaitu 3 Faktor Pesona Wanita Muda ini Membuat Pria Dewasa Jadi Jatuh Cinta, Sampai Bisa Lupa Diri wallpaper hot model, kesehatan penyakit gratis mp3, islam, kristen, harga, unik, fakta, top10, biografi musik

LEAVE A REPLY