Dokter Gadungan Menghilangkan Kaki Bocah Ini

Diduga terjadi adanya malapraktik, kaki kiri bocah berusia 12 tahun menjadi membusuk sehingga harus dilakukan tindakan amputasi. Dukungan moral terhadap bocah tersebut harus diberikan oleh orang-orang di sekitarnya.

0
10

laladila.com – Entah apa yang salah dalam proses penanganan medis terhadap Setyo Aldi. Kaki kiri bocah berusia 12 tahun itu membusuk sehingga harus diamputasi.

Dukungan moral terhadap Setyo Aldi harus diberikan oleh orang di sekitarnya. Terlepas bocah 12 tahun itu menjadi korban malapraktik atau tidak, dukungan tersebut sangat diperlukan untuk menguatkan hati Aldi.

Itu terjadi setelah orang tuanya, Slamet, 42, memutuskan untuk mengikuti anjuran dokter, yakni mengamputasi kaki kiri Aldi agar virus tidak menyebar. Aldi dioperasi di Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Kota Malang kemarin.

Ketika dihubungi, kemarin pukul 15.30 Slamet menyatakan bahwa anaknya sedang menjalani operasi amputasi. ”Operasi dimulai 30 menit lalu (kemarin),” kata pria yang tinggal di Jalan KH Malik Dalam, Kelurahan Buring, Kecamatan Kedungkandang, itu.

Awalnya, dia merasa tidak kuat menanggung biaya operasi karena tidak punya uang lagi untuk kebutuhan lain-lain. Apalagi, dia masih punya tanggungan di bank Rp 1,1 juta setiap bulan. Padahal, gajinya sebagai petugas satpam setiap bulan hanya Rp 2 juta. Dengan begitu, dia memutuskan membawa pulang anaknya untuk dirawat di rumah saja.

Namun, keputusan operasi akhirnya diambil agar virus tidak menyebar di tubuh Aldi. Selain itu, Aldi sudah ikut jaminan kesehatan nasional (JKN) sehingga operasi ditanggung pihak BPJS. Sebelumnya, Slamet mengatakan sudah ditemui anggota dewan dari komisi D dan dinas kesehatan. mereka bersilaturahmi ke rumah saya untuk membicarakan rencana operasi Aldi,” kata Slamet.

Pada malam itu, sesungguhnya mereka ingin menyegerakan operasi. Tetapi, Slamet minta operasi dilakukan pagi karena harus menguatkan mental Aldi terlebih dahulu. ”Pihak dewan mengupayakan kaki palsu untuk anak kami agar dia seperti anak normal biasanya. Saya juga berterima kasih ke teman-teman media karena berkat pemberitaannya ada kepedulian dari berbagai pihak,” imbuhnya.

Untuk meyakinkan mental anaknya, Slamet membutuhkan waktu semalam. Menurut dia, Aldi selalu menangis ketika mau salat. ”Saya katakan kepada dia, kalau menjalankan salat, boleh dengan duduk,” ungkapnya.

Namun, Aldi tetap menangis lantaran takut kesulitan menjalani salat berjamaah seperti biasanya. Tetapi, tidak lama kemudian Aldi berhasil diyakinkan. Untuk mengaji, dia juga akan dibimbing saudara sendiri. ”Setelah itu, dia merasa sedikit tenang dan siap menjalani operasi,” ujarnya.

Diberitakan sebelumnya, dokter RSSA memvonis Setyo Aldi harus menjalani amputasi kaki kiri. Sebab, kondisi ujung kaki kiri hingga lutut menghitam dan mengelupas. Kondisi tersebut diawali saat Aldi terjatuh dan tertimpa sepeda motor yang diparkir di rumahnya pada Jumat lalu. Akibat luka itu, Aldi dilarikan ke RSUD Kota Malang di Jalan Rajasa, Kelurahan Bumiayu, Kedungkandang. Namun, baru sekitar satu jam dirawat, pihak RSUD merujuk Aldi ke RSSA untuk menjalani perawatan lebih serius.

Dokter RSSA menmyatakan, luka yang dialami Aldi akibat tertimpa motor itu cukup serius. Kemudian, Aldi menjalani operasi tulang kaki yang patah. Saat itu operasi berlangsung lancar. Kaki kiri Aldi juga dipasang pen. Namun, empat hari kemudian ada yang aneh pada kaki kiri Aldi. Di ujung jari-jari kakinya muncul bercak-bercak hitam.

Bahkan, sebelum dioperasi, kaki Aldi bisa digerakkan. Tetapi, setelah dioperasi, justru kakinya mati rasa. Karena itulah, diduga terjadi malapraktik saat operasi tersebut. Namun, pihak RSSA membantah hal itu. Alasannya, semuanya sudah sesuai dengan prosedur.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Malang Asih Tri Rachmi setelah mendengarkan cerita dari Slamet menyimpulkan bahwa Aldi bukan korban malapraktik. ”Itu bukan malapraktik, tetapi ada pembuluh darah yang robek,” kata Asih.

Sementara itu, psikolog Universitas Brawijaya (UB) Ilhamudin Nuqman menyatakan, ada dua pendekatan untuk mengatasi depresi yang mungkin dialami Aldi. Pertama, pendekatan sosial. Dalam pendekatan sosial, masyarakat di sekitar tempatnya tinggal harus bisa menerima kehadiran Aldi. “Masyarakat harus memberikan dukungan moral,” kata Nuqman.

-sd-

LEAVE A REPLY