Laladila – Kesaksian Andi Narogong Membuat Setya Novanto Terpojok

by

Laladila- Kesaksian Andi Narogong Membuat Setya Novanto Terpojok

Kesaksian Andi Narogong Membuat Setya Novanto Terpojok

Laladila
Terdakwa Andi Agustinus alias Andi Narogong memberikan kesaksian di persidangan. Dia menjelaskan berbagai peran Ketua DPR Setya Novanto dalam proyek dugaan korupsi proyek e-KTP yang diduga merugikan keuangan negara Rp 2,3 triliun.

Andi menyatakan, Setnov memberi saran kepada mereka untuk melibatkan Made Oka Masagung, Komisaris PT Gunung Agung, untuk mempermudah soal transaksi antarperbankan. Kesaksian Andi itu diungkapkan saat pemeriksaan terdakwa di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat.

Andi mengungkapkan, saat proyek e-KTP sedang dijalani, sempat terjadi pertengkaran antara Paulus Tannos, direktur utama PT Sandipala Arthaputra dengan Irman, mantan Dirjen sekaligus terdakwa e-KTP lainnya. Paulus tidak setuju jika pengerjaan proyek e-KTP dibagi rata ke seluruh pihak. Paulus merasa proyek e-KTP dikerjakan oleh anggota pemenang konsorsium yaitu konsorsium PNRI. Tapi Irman marah setelah mendengar jawaban Paulus.

“Akhirnya Pak Nov bilang ya sudah nanti saya kenalkan ke Oka Masagung karena dia punya jaringan perbankan. dikatakan juga bahwa konsorsium akan memberikan fee 5 persen,” jelas Andi di muka persidangan, Kamis (30/11), menirukan ucapan janji Setnov saat itu.

Kemudian, Novanto mengundang Andi dan rekan ke rumahnya untuk mempertemukan mereka dengan Made Oka. Dalam pertemuan itu, juga hadir Paulus Tannos.

Di akhir tahun 2011, Chairuman Harahap selaku ketua komisi II DPR saat itu datang untuk menagih janji fee 5 persen kepada Irman. “Jadi dari awal mereka sudah tahu Depdagri akan memberikan fee 5 persen untuk DPR,” ungkapnya

Pembahasan fee 5% sampai  ke kantor Setya Novanto di Equity Tower. Pada pertemuan itu, turut hadir Setya Novanto, Chairuman Harahap, Paulus Tannos, termasuk Andi. Paulus setuju dengan fee 5 persen nya dan pertemuan pembahasan akhirnya selesai.

Menurut Andi, ketua DPR Setya Novanto meminta pertemuan pembahasan proyek E-KTP dibicarakan di Hotal Grand Melia , Jakarta, pada Februari 2010 lalu. Pertemuan itu juga dihadiri Andi, Dirjen Dukcapil Kemendagri saat itu Irman, lalu Direktur Pengelolaan Informasi dan Administrasi Ditjen Dukcapil Kemendagri saat itu Sugiarto dan Sekjen Kemendagri saat itu Diah Anggraeni.

“Pak Nov yang menentukan tempatnya karena dia masih harus mendatangi acara setelahnya. Saya yang bayar. Kita booking ruang meeting di sebelah restoran Jepang,” ujar Andi saat memberi kesaksian di persidangan dengan agenda mendengarkan kesaksian terdakwa, di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Kamis (30/11).

“Apa yang dibicarakan?” tanya ketua majelis hakim Jhon Halasan Butarbutar kepada Andi.

“Bu Sekjen (Diah Anggreni) dan Pak Irman bilang ada proyek e-KTP tolong didukung, lalu Pak Nov bilang kami selaku partai pendukung pemerintah pasti akan kami dukung,” menirukan kata setyo tutur Andi.

Andi mengatakan tidak ada pembahasan lebih panjang dari Setya Novanto pada pertemuan tersebut. Hanya saja setelah pertemuan itu, Andi mengaku dipanggil Irman dan dia menjelaskan perkembangan proyek senilai Rp 5,9 triliun itu.

Keduanya pun bertemu Setnov di ruang kerjanya lantai 12 gedung DPR. Saat itu, Setnov merupakan ketua fraksi Golkar. sesampainya di sana, Irman yang sekarang berstatus terdakwa atas kasus yang sama, menanyakan perkembangan proyek e-KTP di DPR ke Setnov.

Setnov menjawab dia sudah menyuruh orang untuk memantau perkembangan proyek e-KTP tersebut.

“Di sana Pak Irman menanyakan perkembangan anggaran e-KTP, lalu kata Pak Nov bilang ya nanti akan terus saya cek perkembangannya,” ujarnya.

Setelah selesai pertemuan itu Andi mengaku dikenalkan dengan Johannes Richard Tanjaya oleh Irman. Saat itu, kata Irman, Johannes Tan merupakan pemegang kunci SIAK.

“Katanya siapa pun yang ikut harus koordinasi ke beliau (Johannes Richard Tanjaya) kalau mau dibukakan kuncinya,” tuturnya.

Setelah dikenalkan dengan Johannes, Andi mengaku langsung mengundang Johannes Tanjaya, Paulus Tannos, Johannes Marliem, dan Isnu Edhi ke ruko miliknya di Fatmawati, Jakarta Selatan. Dengan tujuan untuk melakukan penjajakan diskusi teknis.

“Kami baru sebatas bicarakan apa yang bisa disiapkan tentang proyek e-KTP berdasarkan apa yang sudah dibahas sebelumnya di uji petik,” ujarnya.

Dikatakan oleh Andi, orang orang yang hadir ke ruko Fatmawati kemudian diperkenalkan ke Irman. Paulus Tannos dikenalkan sebagai orang dekat Gamawan Fauzi, mantan Mendagri. Paulus, kata Andi, dia sudah menyiapkan uang sebesar Rp 1 Triliun. sedangkan Johannes Marliem dikatakan Andi merupakan pihak penyedia AFIS (Automated Fingerprint Identification System).

Andi juga mengakui memberikan sebuah jam tangan mewah merek Richard Mille, p bersama Johannes Marliem, untuk Setnov. Tapi jam tangan mewah itu dikembalikan Setnov saat kasus ini mulai terbongkarnya korupsi dari proyek senilai Rp 5,9 triliun itu.

“Pada saat saya sebelum ditangkap, awal 2017 dikembalikan karena ada ribut-ribut e-KTP,” kata Andi di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Kamis (30/11).

Andi mengatakan dia memberikan jam tangan itu sebagai bentuk terima kasih karena Setnov sudah membantu proses penganggaran e-KTP di DPR.

Kata Andi, untuk membeli jam tangan seharga Rp 1,3 miliar itu, Andi mengeluarkan uang sebesar Rp 650 juta sedangkan sisanya ditanggung oleh Johannes Marliem. Jam tangan itu dibeli secara langsung di California.

Setelah membeli jam tangan yang diinginkan, Johannes dan Andi mengunjungi kediaman Setya Novanto untuk memberikan hadiah terima kasih. Saat itu, ujar Andi, Setnov mengucapkan terima kasih.

“Pak Nov senang. Ini ada hadiah kami berdua atas bantuan bapak selama ini,” jelas Andi.

Sementara itu, Andi mengaku tidak mungkin memberikan jam tangan mewah untuk ketua umum non aktif Golkar itu jika tidak ada proyek e-KTP.

“Seandainya tidak ada proyek e-KTP, apakah anda mau membelikan Setya Novanto jam tangan semahal itu?” tanya ketua majelis hakim Jhon Halasan Butarbutar, Kamis (30/11).

“Tidak yang mulia,” jawab Andi.

Andi berjanji akan mengembalikan keuntungan proyek e-KTP yang didapatnya ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Andi mengatakan, pengembalian tersebut sudah dilakukan dengan pengembalian pertama USD 350 ribu.

“Saya sudah mulai mencicil. Senin saya sudah kembalikan USD 350 ribu ke KPK,” ujar Andi, Kamis (30/11).

Andi juga menambahkan pengembalian tersebut diharapkan masalah nya bisa diselesaikan.

“Saya mau hidup tenang. Saya menyesal yang mulia,” katanya.

Setnov tidak mengakui kalau dia pernah menerima aliran dana korupsi e-KTP. Setnov juga juga tidak setuju dengan dugaan Partai Golkar ikut kecipratan dana ‘pemulus’ proyek e-KTP sebesar Rp 150 miliar.

Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) ini menyatakan tidak pernah mempengaruhi fraksi-fraksi partai untuk menyetujui anggaran proyek e-KTP saat menjabat sebagai Ketua Fraksi Partai Golkar.

“Enggak pernah kita ikut karena fraksi itu hanya menerima laporan pleno satu bulan sekali dan tidak secara detail. Tetapi semuanya secara moral kepada masalah-masalah yang lain,” jelas Setnov.

Baca juga

WARNING KHUSUS DEWASA!!! Semua artikel disini adalah konten dewasa yaitu video bokep terbaru 2018 yang paling hot dan paling diminati, dan tak layak jika di tonton anak kecil yang belum cukup umur.

TOP RATE VIDEO BOKEP 2018

----------

VIDEO BOKEP TERBARU PEMERKOSAAN DAN ABG CANTIK JUGA CEWEK INDO MODEL DAN ARTIS YANG LAGI HORNY

----------